“ayo lari.............”
Segerombolan anak berpakaian olahraga SD itu serempak lari ketika mereka mendengar aba – aba dari salah satu teman mereka. Di belakang mereka seorang anak dengan seragam yang sama mengejar sekumpulan teman – temannya itu. Ternyata mereka sedang bermain. Ya, kejar – kejaran. Semua lari terbirit – terbirit sambil tertawa puas karena temannya yang pengejar pengejar tak kunjung menangkap salah satu dari mereka. Si pengejar pun juga tertawa lebar ketika melihat teman – temannya lari pontang - panting. Pemandangan ini saya alami di suatu siang ketika saya berangkat ke kampus. Ketika itu saya masih kuliah di Universitas Negeri Semarang. Saya tersenyum melihat gerak gerik mereka. Pun ketika saya melihat segerombolan anak laki – laki lain yang asik bermain di lapangan yang tampak seperti kubangan karena penuh dengan air hujan semalam. Semuanya penuh tawa bahkan ketika salah seorang dari mereka jatuh ke dalam kubangan air yang berwarna coklat. Saya tak pernah berhasil untuk tidak tersenyum melihat pemandangan seperti ini. Anak – anak kecil yang ceria, penuh tawa dan tanpa beban. Ya, itulah dunia mereka. Tawa mereka pun pernah saya miliki.
Hidup tak lain adalah sebuah fase. Fase itu akan senantiasa berjalan sebelum akhirnya terhenti. Terlahir tanpa daya, lalu beranjak menjadi balita, anak – anak, remaja, dewasa hingga berakhir. Mungkin memang fase anak – anak lah yang paling menyenangkan. Ya, seperti mereka yang saya ceritakan tadi. Berlari, tertawa dan selalu ceria. Hmmm..mungkin inilah yang membuat saya menyukai anak kecil. Mereka polos, lugu dan apa adanya. Anak kecil selau bisa membuat saya teringat akan masa kecil saya. Memakai seragam SD, sarapan, diantar ibu ke sekolah, main petak umpet, berlomba maju ke depan kelas, tidur siang dan mengerjakan PR. Semuanya seperti mengalir begitu saja ketika itu. Kembali lagi pada topik fase sebelumnya. Fase itu telah beranjak dan sekarang, saya bukan anak kecil lagi. Saya yang saat ini adalah seorang yang sedang menjalani masa perjuangan dan kerja keras. Bermimpi, bangun dan mewujudkan mimpi itu. Seperti ngendika Ibu saya: semua itu sudah ada masanya sendiri – sendiri, dan semua fase pasti akan menyenagkan untuk dijalani. Semangat untuk teman – teman seperjuangan saya. Mari bersama kita berjuang menjaga senyum anak – anak Indonesia :D
